Home Categories Tags About
· 8 min read · by Pep Skipepep

Dona Dona: 思い出が消えないうちに (Before the Memory Fades)


Itulah judul yang dipakai Gramedia ketika menerbitkan buku ketiga dari series novel "Before the Coffee gets Cold" karya Toshikazu Kawaguchi atau yang diterbitkan dengan judul "Funiculi Funicula" pada volume ke 1 dan 2 oleh Gramedia.

Judulnya berubah bukan tanpa alasan. Alur cerita di buku ketiga berpindah dari kafe Funiculi Funicula di Tokyo, ke kafe Dona Dona di Hokkaido. Meskipun begitu, kafe ini memiliki keistimewaan yang sama. Mampu mengantar orang melintasi waktu selama kopi yang dituangkan belum benar-benar dingin.

Komposisi yang digunakan sama persis dengan volume 1 dan 2. Empat bagian yang masing-masing mempunyai tokoh dan ceritanya masing-masing. Dengan tempo alur yang kurang lebih sama, pemberian konteks - klimaks - antiklimaks. Meskipun begitu menganggap buku ini menjadi membosankan adalah sebuah kesalahan.

Seperti biasa, review ini juga akan menjelaskan 4 bagian dari volume kali ini serta tanggapan terhadap tiap-tiap bagian. Di akhir baru ada penilaian dari penulis terhadap novel Dona Dona oleh Toshikazu Kawaguchi.


Seperti biasa, SPOILER ALERT!

Ada perbedaan format penamaan judul bab di volume ketiga. Biasanya judul babnya cukup singkat dan merupakan nama relasi, seperti Ibu dan Anak atau semacamnya. Di volume ketiga, judul bab lebih panjang. Bab pertama berjudul,

Kisah Anak Perempuan yang Tidak Bisa Mengatakan "Dasar Menyebalkan!"

Di bab ini, pengarang menceritakan kelanjutan dari bab terakhir di volume kesatu, ketika Kei sedang lompat ke masa depan untuk menemui anaknya. Kei sempat melakukan percakapan via telepon dengan suaminya, Nagare, yang entah kenapa bisa ada di Hokkaido. Salah satu pulau besar yang ada di utara Jepang.

Nagare Tokita, manajer kafe Funiculi Funicula, harus menggantikan peran ibunya sebagai manajer kafe Dona Dona di Hakodate, Hokkaido karena beliau pergi ke Amerika untuk mencari seseorang. Yang membuat Nagare kesal adalah tindakan ibunya yang sembrono dan tidak bertanggung jawab. Alhasil, Nagare yang harus menggantikannya.

Kapal di Pelabuhan Hakodate

Kapal di Pelabuhan Hakodate. Jika kamu berkunjung ke Dona Dona di siang hari, kamu dapat melihat dengan jelas kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan. Sumber gambar: 全国ロケーションデータベース)

Di bab ini juga dikenalkan beberapa tokoh baru yang muncul, seperti Saki, Reiji, hingga Sachi, anak dari Kazu Tokita, lord kita yang terus tampil hingga volume ketiga ini.

Bab ini menceritakan kisah Yayoi, seorang yang memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan. Ia mendengar bahwa ada kafe yang dapat membawanya kembali ke masa lalu. Bermodalkan kerja serabutan, ia pergi ke Dona Dona, kafe di Hokkaido menggunakan pesawat tanpa membeli tiket untuk pulang.

Yang ia ingin lakukan sederhana, marah-marah ke orang tuanya yang telah 'menelantarkan' ia sejak kecil. Ayah dan ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan yang membuat ia harus tinggal berpindah-pindah tempat. Nasibnya tidak berjalan mulus karena ia banyak ditolak di berbagai tempat dan berakhir di panti asuhan. Setelah mendengar peraturan merepotkan dari Reiji, karyawan part-time di Dona Dona, ia pun pergi ke masa lalu. Peraturannya sama, ia harus kembali sebelum kopinya benar-benar dingin.

Di masa lalu, ia menemui ibunya tidak dalam kondisi terbaiknya. Ibunya nyaris bunuh diri jika tidak diselamatkan oleh Yukari, ibu dari Nagare. Ibunya lalu dibawa ke kafe Dona Dona. Sejak saat itu, ibu (saat itu belum menjadi ibu) Yayoi sering berkunjung ke Dona Dona. Di saat itulah Yayoi hadir dari masa depan.

Namun, Yayoi yang ingin protes justru mengurungkan niatnya karena mendengar bahwa ibunya mengalami hal yang lebih parah darinya.

Yayoi mengalami pengembangan karakter yang cukup pesat. Namun, cerita-cerita seperti ini sudah banyak berkeliaran. Jadi, rasanya cukup mainstream. Gua juga cukup sensitif dengan pewatakan tokoh. Pewatakan tokoh yang menurut gua agak-agak childish jadi turn down point tersendiri, sih bagi gua. Untuk bab ini, so so aja sih.

Kisah Komedian yang TIdak Bisa Bertanya "Apa Kau Bahagia?"

Bercerita mengenai kisah grup komedian yang digawangi oleh Hayashida dan temannya, Todoroki, yang menghilang dari publik secara misterius setelah memenangi penghargaan bergengsi bagi seorang komedian. Beberapa tahun lalu, istri Todoroki telah pergi meninggalkannya. Oleh karena itu, Todoroki ingin menunjukkan penghargaan yang telah ia menangkan ke istrinya, dengan pergi ke masa lalu. Namun, sepertinya dia tidak berniat untuk pulang.

Cerita tentang percobaan bunuh diri dengan memanfaatkan 'bug' pada 'fitur' pergi ke masa lalu sudah sempat disinggung di bab sebelumnya. Jadi, tidak terlalu kaget, sih. Tapi, secara pribadi, ceritanya cukup menyentuh meskipun bisa dibilang cerita mainstream juga. Cuma, kalo pembawaan dari author, seperti biasa, mendetail, cukup sulit buat disangsikan bahwa cerita ini jadi menarik dan menyentuh.

Kisah Seorang Adik yang Tidak Bisa Mengatakan "Maaf."

Reiko merupakan seorang yang ceria dan keceriannya itu direnggut ketika ia kehilangan adiknya yang meninggal empat bulan yang lalu. Suatu ketika, adiknya datang ke masa depan untuk menemui kakaknya yang semakin terpuruk.

Yang menarik dari bab ini adalah, di cetakan fisik yang diterbitkan oleh Gramedia, ada kertas yang berwarna hitam wkwkwkwk. Silahkan diexplore sendiri kenapa bisa begitu wkwkwk.

Untuk ceritanya, secara emosional tetap mirip dengan bab sebelumnya. Gua akan bahas lebih lanjut di kesimpulan akhir. Cerita tentang kakak dan adik pun juga sudah ada di bab-bab sebelumnya. Jadi, ini tidak begitu spesial. Gua menginginkan suatu yang baru.

Kisah Pemuda yang TIdak Bisa Mengatakan "Aku Suka Padamu."

Reiji, tokoh yang sangat disorot di jilid ini, mendapatkan gilirannya. Ia berhasil diterima audisi untuk menjadi komedian. Satu langkah menuju impian berhasil diraih. Namun, teman perempuannya, Nanako, terlihat gelisah. Ada sesuatu yang ingin disampaikan namun gagal di momen yang tepat. Nanako akhirnya gagal mengungapkannya dan sama seperti Reiji, harus pergi ke suatu tempat. Reiji mencoba memperbaiki kesalahan itu.

Ya, kali ini temanya beda. Tentang dua pemuda yang saling suka namun tidak ada yang menyadari. Reiji yang bertindak sebagai 'pengganti' Kazu di jilid-jilid sebelumnya akhirnya benar-benar mendapat spotlight. Plotnya sendiri bagi gua, secara subjektif, cukup menarik. Mungkin karena memang genre seperti ini yang gua suka. Tapi, pembawaan pak Toshikazu Kawaguchi memang sebagus itu kok. Keluh kesahnya akan disampaikan di akhir.

Kesimpulan Akhir

Gua udah baca jilid 1, 2, dan 3. Bagi gua sendiri, jilid ini serasa yang paling membosankan. Gua rasa ini karena plot yang gitu-gitu aja. Apalagi tiga bab di awal, temanya sama! Astaga! Isinya tentang orang yang ditinggal oleh orang yang meninggal. Gua tahu itu memang alasan yang paling lumrah orang mau pergi ke masa lalu. Tapi, sampai tiga bab temanya itu lagi itu lagi?

Selain itu, beberapa 'tema' kisah seperti suami ditinggal istri, kakak ditinggal adik, atau sebaliknya, itu pernah di-cover di jilid sebelumnya. Jadi, ketika dibaca jilid 3, nggak begitu keliatan fresh. Kenapa nggak coba tema lain, misalnya, seseorang memperingati orang lain agar tidak dipecat dari pekerjaanya, atau tema lain lah yang sekiranya bisa dimasukkan.

Gua merasa saking membosankannya, author pun harus mindahin latar dari Tokyo ke Hokkaido untuk menciptakan suasana baru. Dengan membawa tokoh-tokoh baru. Reiji, anaknya Kazu, dan tokoh-tokoh pendukung baru lainnya. Sayangnya hal itu nggak begitu bisa gua jadiin satu poin yang terlalu positif bagi gua.

Mungkin hal baru yang bisa gua highlight adalah konsistennya anaknya Kazu untuk baca buku '100 Pertanyaan jika besok terjadi Kiamat.'. Itu cukup menarik sih, sayangnya kurang dieksploitasi oleh author.

Sisi positifnya, pembawaan author tidak luntur. Tetap on fire seperti biasa. Namun, memang kurang inovasi plot. Jadi, kalo ada yg baca langsung dari jilid ini, mungkin kesannya akan lebih positif dibanding pembaca yang baca dari jilid 1.

Terakhir wkwkwk. Judul buku ini untuk terbitan Gramedia adalah Dona-dona. Cukup disayangkan bagi gua karena itu akan membingungkan orang yang baru mau mulai. Karena judul bukunya rada tidak sinkron. Bandingkan dengan judul versi English (dan Jepang tentu saja) yang cukup memiliki harmonisasi.

Rating

Dengan segala keluh kesah di atas, gua kasih 7.5 / 10. Aslinya mau 7, tapi, pembawaan cerita oleh author menurut gua memang sebagus itu. Jadi ditambahin deh setengah xixixi. Sekian.

Diselesaikan pada 17 Februari 2024 di Depok. Kondisi mood: sudah lama tidak recharge awikwok.

Ciao!