Home Categories Tags About
· 9 min read · by Pep Skipepep

Funiculi Funicula: コーヒーが冷めないうちに (Before the Coffee Gets Cold)


Sumber gambar: kompasiana.com

Gua kira ini novel tentang dua sejoli yang mempunyai suatu permasalahan sampe gua baca chapter 3 dan 4….

⚠️ spoiler alert!!!!!!!!!!!!!!!!! ⚠️

Summary

Ada sebuah kafe di gang kecil di Tokyo, kecil, berada di bawah tanah, tidak mempunyai jendela, bernuansa sepia dan berusia 100 tahun lebih. Legenda urban di daerah tersebut berkata bahwa kafe itu mampu membawa seseorang pergi ke masa lalu. Namun ada syaratnya:

  1. Orang yang ingin ditemui di masa lalu haruslah pernah datang ke kafe
  2. Harus duduk di tempat yang telah ditentukan, tidak boleh pergi dari tempat duduk tersebut
  3. Kenyataan di masa depan tidak akan pernah berubah sekeras apapun kita mencoba mengubah masa lalu
  4. Ada batas waktu. Sebelum kopinya dingin. Inilah peraturan yang paling berat. Karena jika melanggar….

Novel ini menceritakan 4 cerita utama yang alurnya maju (cerita kedua merupakan masa depan dari cerita kesatu dan seterusnya). Cerita pertama mengisahkan Fumiko dan Goro, sepasang kekasih yang sudah berpacaran 3 tahun namun harus kandas begitu saja. Dilanjut dengan cerita sepasang suami-istri, sang istri yang merupakan perawat, Kotake, dan Fusagi, suaminya yang bekerja sebagai penata kebun. Hirai dan Kumi, dua kakak adik yang memiliki kepribadian yang sangat jauh dan ditutup dengan kisah antara Kei Tokita, istri dari pemilik kafe dengan anaknya yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ditemani seorang wanita bergaun lengan pendek berwarna putih, kisah tentang penyesalan dan rasa penasaran membawa mereka mengenali hidup dalam perspektif yang berbeda.

Funiculi Funicula, sebuah karya Toshikazu Kawaguchi, merupakan novel yang digarap dari pertunjukkan teaternya bersama 1110 Productions.

Komentar

⚠️ Okeh, dari sini baru beneran spoilernya. Tapi masih banyak yang berusaha gua tutup bagian menariknya ⚠️

Gua mau bahas keempat ceritanya.

恋人 (Kekasih)

Cerita antara Fumiko dan Goro. Goro akhirnya dapet pekerjaan yang ia impi-impikan selama ini dan akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Amerika. Tapi, pengumuman yang ia terima beneran mendadak seperti tahu bulat dan dinilai cukup ‘kejam’ oleh Fumiko. Karena rasa sedih dan penasaran, Fumiko yang cukup bernalar dan lebih mengutamakan hal-hal yang realistis (well, she is a programmer indeed) memakan begitu saja legenda urban tentang kafe yang bisa membawa seseorang ke masa lalu.

Cerita ini cukup compact. Benar-benar pas buat cerita pembuka. Fumiko yang karakternya periang dan cukup sembrono saat akal sehatnya kurang sehat menggambarkan dengan baik bagaimana peraturan ‘Perjalanan ke Masa Lalu’ di kafe ini berjalan. Ceritanya menurut gua tidak terlalu sedih, lebih ke wholesome. Buat gua pribadi, gua yang masih jomblo ini jadi mikir-mikir lagi bagaimana kriteria seorang pria bisa dicintai (lol). Tapi pas pertama kali gua baca, endingnya rada kurang sih. Gua merasa “loh, endingnya gitu doang?”. Tapi sekali lagi, benar-benar cerita yang pas buat pembuka.

夫婦 (Suami - Istri)

Ini adalah cerita yang kalau gua nggak baca di kereta, mungkin gua akan pukul-pukul sesuatu karena saking gemasnya. Kotake, begitu nama gadisnya, dengan Fusagi, merupakan pasangan suami istri. Kotake bekerja sebagai seorang perawat sedangkan Fusagi bekerja sebagai tukang kebun (yang bagian hias-hias pohon itu, loh). Namun, Fusagi punya penyakit alzheimer yang cukup parah dan suatu saat, ia melupakan Kotake, istrinya sendiri. Di lain hari, Fusagi yang sering bolak-balik ke Funiculi Funicula pernah bilang ke karyawan di kafe itu kalo ia mau balik ke masa lalu. Untuk apa? Buat kasih surat yang gak pernah ia bisa kasih ke seseorang. Setelah Kotake tahu itu, ia mencoba duduk di tempat gadis bergaun lengan pendek dan pergi ke masa lalu.

Ini cerita yang sangat amat mantap buat gua yang doyan sama cerita tearjerker macam ini. Fusagi yang ternyata tsundere berusaha sekuat tenaga untuk membawa kebahagiaan kepada istrinya. Sedangkan Kotake berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pendamping setia bagi suaminya. (Ya Tuhan, tolong bagilah aku istri yang setia seperti ini…..). Ceritanya tidak hanya bagaimana kehidupan romantis mereka berdua. Namun tentang bagaimana mereka (baca: Kotake) bisa mendapatkan perspektif baru mengenai hidup agar tetap kuat setelah dilupakan oleh suaminya sendiri. A perfect story.

姉妹 (Kakak - Adik / Saudari)

Setelah mendapat cerita yang sangat mantap, ekspektasi gua ke cerita selanjutnya cukup tinggi dan ekspektasi gua terpenuhi. Kumi, adik dari Hirai, mengunjungi kafe ini di awal-awal Bab 2. Hirai yang membenci adiknya tentu menghindari adiknya yang terus berusaha membujuk ia untuk pulang dan membantu mengurus penginapan milik keluarga di Sendai. Namun, Kumi mengalami kecelakaan dan meninggal. Orang yang masih waras tentu akan mengalami rasa bersalah jika berada di posisi Hirai dan untungnya Hirai adalah orang waras. Kewarasan itu yang membawanya pergi ke masa lalu untuk menemui adiknya sesaat sebelum masa-masa terakhirnya.

Ini preferensi pribadi, tapi cerita yang menyangkut masalah keluarga seperti orang tua dan anak atau sesama saudara itu merupakan salah satu ‘genre favorit gua. Cerita mengenai kesalahpahaman Hirai yang berjiwa bebas dan terkadang sembrono ini memberikan satu pelajaran penting.

Jalanilah hidup hingga hidup tidak memiliki rasa penyesalan.

Satu quote lagi.

Hidup cuma sekali, maka dari itu jalanilah sebaik mungkin.

Intinya, jangan sampai melakukan tindakan yang berpotensi meninggalkan rasa penyesalan di masa hidup. Berbuat baiklah. Bersemangatlah. Karena masa lalu tidak bisa diubah bagaimanapun caranya. What a great lesson.

母と娘 (Ibu dan Anak)

Fumiko, si tokoh utama pada Bab 1, kembali muncul. Kali ini ia tidak ingin kembali ke masa lalu. Intuisinya sebagai programmer membuat ia penasaran. “Jika kafe ini bisa membawa orang ke masa lalu, lalu, bagaimana dengan masa depan? Apa bedanya membawa orang ke masa lalu dan masa depan?” Mendengar pertanyaan itu, si bukan tokoh utama namun tokoh penting di setiap bab, Kazu Tokita, menjawab bahwa pertanyaan tersebut jawabannya adalah “Bisa”. Namun, tidak seseorang pun bisa melakukan hal itu karena sulit untuk membayangkan masa depan. Karena masa depan adalah sekumpulan tempe, alias tidak ada yang tahu (jokes garing). Tidak lama, Kei Tokita yang sedang hamil muda dan mempunyai masalah jantung sedari muda, sakit. Beberapa waktu sebelumnya, dokter telah memberi tahu suaminya, Nagare si pemilik kafe, bahwa mengandung anak merupakan hal yang berbahaya bagi istrinya. Meskipun begitu, Kei tetap bersikukuh untuk melahirkan anak tersebut. Setelah merasa lebih baik, Kei terpikirkan oleh pertanyaan Fumiko, ia pun memberanikan diri mencoba hal itu untuk menemui anaknya di masa depan.

Cerita ini mungkin bisa menepis kebosanan pembaca karena tiga cerita sebelumnya menggunakan formula yang sama. Tapi di cerita ini penulis membawa perspektif yang baru yaitu perjalanan ke masa depan dimana sayangnya itu merupakan major turn down buat gua. Menurut gua konsistensi pada bab ini bisa dipertanyakan sih. Mengenai bagaimana peraturannya tetap berlaku meski tindakan yang dilakukan berbeda drastis. Selain itu, cerita pada bab ini tidak terlalu membuat gua excited sih, karena perjalanan ke masa depan menurut gua terlalu ‘curang’. Seseorang bisa lebih tenang jika bisa tahu bagaimana masa depan. Pada konteks ini, harusnya Kei tidak bisa yakin apakah anaknya tetap hidup setelah masa melahirkan, atau bisa saja Kei tidak sanggup hingga masa melahirkan. Pergi ke masa depan ibarat mencontek jawaban ujian, sedangkan pergi ke masa lalu ibarat melihat kembali catatan belajar semalam lalu kita mencoba dengan perspektif baru. Sama-sama curang, namun pergi ke masa depan terlalu instan hasilnya dibanding pergi ke masa lalu yang digaung-gaungkan di buku ini.

Karena ini masih di spoiler area, akan gua bahas disini meskipun lebih cocok di bagian setelah ini (rating). Tulisan ini dibuat ketika gua belum selesai membaca buku Funiculi Funicula jilid 2. Namun yang membuat gua tetap ingin melanjutkan bukunya adalah ada seorang tokoh sentral yang seperti berusaha ditutup-tutupi keberadaannya meskipun sering dideskripsikan fisik dan kepribadian, ya, Kazu Tokita. Siapa sebenarnya Kazu Tokita? Mengapa harus dia (di setiap cerita, tidak tahu beneran cuma dia yang bisa apa bagaimana) yang menuangkan teko ke gelas orang-orang yang ingin menjelajahi waktu? Apa ada kemampuan khusus yang ia miliki? Apa kita bisa mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai hantu dengan gaun berlengan pendek? Kenapa kafe itu bisa memiliki kemampuan seperi itu? atau itu tetap menjadi plot hole khas cerita fantasi?

Rating

Penjelasan yang mengandung spoiler disampaikan panjang lebar di bagian Komentar. Di bagian ini insyaaAllah spoiler free. Jika gua akan menilai dengan penilaian 1-10 (Goodreads kenapa cuman sampai 5 doang dah….). Novel ini, dengan penilaian subjektif dan objektif, gua kasih nilai 9.

Nilai Positif (+):

  • Banyak pelajaran hidup yang bisa diambil
  • Penokohan yang ciamik dan konsisten
  • Pendeskripsian karakter yang detil
  • Penuansaan yang bikin pembaca benar-benar bisa masuk ke setting novel

Kekurangan (-):

  • Masih banyak plot hole
  • Pengembangan karakter masih cuma sebatas 1 bab aja

Penutup

Sedemikian bacotan gua mengenai Funiculi Funicula Jilid 1, novel pertama dalam beberapa tahun yang benar-benar gua habisin wkwkwk. Penasaran dengan jilid 2 bakal kayak gimana. Apakah pertanyaan gua di bagian komentar bakal terjawab? Layak ditunggu. Sekian. Ciao!